Yusron Aminulloh


Oleh : Yusron Aminulloh

Banyak orang kaget saat masuk kota Jombang. Apalagi masuk dalam pengertian sesungguhnya, yakni ikut bergerak, beraktivitas dan memerankan diri dalam proses kehidupan.

Ada tiga gelombang besar yang akan muncul menerima perubahan. Pertama, mendukung (optimisme), menolak (pesimisme) dan diam tanpa komen (cuek). Dan gelombang besar yang sering muncul adalah menolak dan cuek.

Seringkali sebelum mendengar dan menyaksikan gagasan besar perubahan itu, orang Jombang mengedepankan sejumlah sikap yang menjadi "karakternya" untuk menilai orang luar atau orang asal Jombang sendiri.

Saya pinjam bahasa harian. Ojo kemeruh (sok tahu) , kakean cangkem (kebanyakan bicara), temen tha iku (apa sungguh-sungguh beneran), alah gayamu (belagu) dan ragam dialeg yang akan kita jumpai.

Dalam konteks ini sejumlah gagasan besar menurut orang diluar Jombang, begitu disampaikan ke orang Jombang yang tinggal di Jombang, menjadi kecil dan tak lagi besar.

"Alah...wong ide begitu saja. Orang Jombang sudah biasa." "Kita sudah lakukan lama. Sejak dulu. Itu bukan hal baru." "Sudah jangan banyak teori. Kita sudah tahu semua." Itulah sejumlah "penolakan" dengan landasan pesimisme.

Maka jangan kaget, pesantren besar di Jombang santrinya dominan orang diluar Jombang, kajian-kajian keagamaan di Jombang dominasi yang hadir diluar orang Jombang.

Dan alasan historis memang para pendahulu selalu belajar keluar Jombang. Dalam bahasa sanepan sering disebut, podo gurune ojo saling ngajari. Atau sesama perguruan jangan saling mengalahkan. Ini kenapa orang asal Jombang, bisa terkenal dikelas dunia, harus keluar Jombang baru diakui kebesarannya.

Ada nama Nurcholis Madjid, Gus Dur, Emha dll yang kalau di Jombang "tidak populer" alias dianggap biasa. Bahkan kayak teman bagi orang Jombang. Bukan tokoh nasional seperti kalau mereka saat berada diluar Jombang.

Bahkan jangan kaget "jarang" orang Jombang mengagumi orang Jombang sendiri yang populer dan menjadi panutan orang se Indonesia. Ini karena mungkin sesama minum air Jombang, sesama kakek buyut dan sejumlah alasan psikologis, historis dan antropologis lainnya. Tapi karena sikap itulah, banyak keuntungannya. Paham radikalisme sulit masuk kantong kantong santri Jombang. Beda misalnya di Lamongan atau Solo.

Membangun peradaban dan perubahan kehidupan di Jombang membutuhkan cara yang berbeda. Ada demo aneh2, ada orang berpendapat agak aneh, ada ide agak aneh, akan diesemi wong jombang. " alah gayamu mekitik".

Maka Jombang menjadi biasa secara fisik, tidak menonjol pembangunannya, salah satunya karena "budaya" ini.

Meski Jombang menyimpan kawah yang menjadi "perguruan" bagi para tokoh masa depan. Tapi harus dicatat, menjadi pemimpinan legislatif atau eksekutif di Jombang juga tidak terlalu sulit. Banyak orang pinter dan hebat malas ikut berebut. Bukan karena apa apa, tetapi karena kekuasaan, jabatan bukan lagi menjadi kekuatan dan andalan.

Jangan kaget, pesantren, yayasan atau perorangan di Jombang bisa mendatangkan tokoh, Dirjen, Menteri hingga presiden tanpa melewati jalur birokrasi. Bupati tiba tiba diberitahu akan ada menteri atau Presiden. Karena wong Jombang "adoh jangkahe" melebihi birokrasi. Jadi, optimis atau pesimis membangun Jombang masa depan ?

Tergantung kita menggunakan sudut pandang yang mana. Yang jelas orang Jombang tidak gumunan atau kagetan. Karena sebelum Indonesia merdeka, tokoh tokoh Jombang sudah jauh lebih dahulu berjuang membangun bangsa ini.

Meski hal itu tidak boleh hanya menjadi kebanggaan semu generasi milinial yang ada di Jombang sekarang. Tapi justru menjadi spirit kemajuan. Optimis, pesimis, cuek jadikan keseimbangan.

*)Penulis adalah Master Trainer MEP yang sedang membangun optimisme bagi anak muda Jombang.