Budi Santoso dan Klemens Sukarno Candra, dua terdakwa kasus penipuan dan penggelapan kasus Sipoa saat menjalani persidangan.


SURABAYA (SurabayaPost.id) - Puluhan korban kasus penipuan dan penggelapan pembelian Apartemen Royal Avatar World (PT Sipoa Grup) bersuka cita. Kegembiraan para korban tersebut menyambut ditolaknya eksepsi (keberatan) yang diajukan kedua terdakwa dalam kasus ini.

Penolakan eksepsi dibacakan langsung oleh majelis hakim yang diketuai I Wayan Sosiawan. “Menolak eksepsi para terdakwa. Memerintahkan agar Jaksa Penuntut Umum (JPU) melanjutkan sidang dengan agenda pembuktian,” ujar hakim Wayan pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (9/8/2018).

Pada sidang sebelumnya, kedua terdakwa dalam kasus ini yaitu Budi Santoso dan Klemens Sukarno Candra mengajukan eksepsi melalui kuasa hukumnya. Melalui eksepsinya, para kuasa hukum kedua terdakwa menilai, dakwaan harus ditolak oleh majelis hakim.

Namun pada sidang kali ini, majelis hakim berpendapat lain. Menurut hakim Wayan, eksepsi yang diajukan kuasa hukum kedua terdakwa terkait lokasi perkara dan dakwaan yang dinilai kabur tidak relevan.

Alhasil keputusan hakim Wayan ini disambut suka cita oleh para korban. Mereka menilai majelis hakim telah bertindak adil dengan ditolaknya eksepsi kedua terdakwa.

Sementara itu, Desima Waruwu, salah satu kuasa hukum kedua terdakwa mengatakan, penolak eksepsi merupakan hak dari majelis hakim. Pihaknya pun mengaku siap melanjutkan agenda sidang dengan agenda pembuktian. “Putusan itu memang kewenangan dari majelis hakim,” terangnya.

Perlu diketahui, dua petinggi PT Sipoa Grup yaitu Budi Santoso dan Klemen Sukarno Candra didakwa melanggar pasal 372 KUHP jo pasal 378 ayat 1 ke-1 KUHP. Mereka didakwa telah menipu para konsumen yang telah membeli Apartemen Royal Afatar World. (fan)