Hermanta, Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPw BI Jatim memaparkan sektor pertanian


SURABAYA (SurabayaPost.id) - Bank Indonesia (BI) menyebutkan sektor pertanian di Jawa Timur (Jatim) memiliki beberapa tantangan. Beberapa tantangan itu disampaikan Hermanta, Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPw BI Jatim di acara Sharing Session Digital Ekonomi dengan tema "Membangun Kerjasama Usaha yang Mendukung Pengembangan Ekosistem Start-up Bisnis Berbasi Digital/IT" di Hotel Santika Primiere Surabaya, Selasa (7/8/2018).

 

"Salah satu tantangan sektor pertanian di Jatim ialah menurunnya lahan yang dikonversi jadi lahan industri dan perumahan," kata Hermanta.

 

Tantangan berikutnya, sebut Hermanta, ialah minimnya SDM (sumber daya manusia) yang jarang mau bekerja di sektor pertanian. Selain itu, beberapa komoditi masih impor karena komoditas dalam negeri kalah harga dan kualitas.

 

"Lainnya ialah tata niaga yang panjang sehingga harga di pasar tinggi," lanjutnya.

 

Untuk itulah, Hermanta menyampaikan beberapa yang menjadi jalan keluarnya. Diantaranya, meningkatkan produktivitas di tengah keterbatasan lahan yang semakin sempit dengan teknologi dan inovasi, meningkatkan add value, dan memangkas tata niaga melalui sinergi dengan startup atau pihak lainnya.

 

"Kami siap bersinergi dan kontribusi di sektor pertanian dan mengefesienkan tata niaga sehingga harga komoditas terjangkau. Kalau harga terjangkau, inflasi terkendali," ujarnya.

 

Dari sisi kemasan, Hermanta mengajak seluruh petani untuk bisa memberikan nilai tambah (add value) terhadap hasil tani melalui agro industrinya.

 

"Kalau dulunya petani hanya menjual gabah, sekarang bagaimana gabah diproses menjadi beras kualitas premium. Kalau digiling tidak pecah sehingga memenuhi unsur beras premiumnya. Lalu packaging-nya dikemas bisa 5 kg atau 10 kg," kata Hermanta.

 

"Di level pertanian harus berpikir kesana sehingga menghasilkan produk yang siap jual," lanjut Hermanta.

 

Menurut Hermanta, beberapa komoditas di Jatim mengalami surplus, kecuali kedelai dan jagung.

 

"Kedelai dan jagung masih impor. Lainnya seperti telur, ayam, beras, dan komoditas lainnya sudah surplus," ujarnya.

 

(Jun/rls)